Rabu, 21 Januari 2009

TOMOHON

Seni dan budaya

Seni Tari yang ada di Tomohon sama dengan di Minahasa umumnya, antara lain:

  • Tari Katrili
  • Tari Maengket
  • Tari Pisok
  • Tari Kabasaran (Tari Perang)
Tarian Kabasaran, Pawai 17 Agustus 2006

Seni Musik yang ada di Tomohon antara lain:

  • Musik Bambu (Bahannya berasal dari bambu dan campuran jenis musik dari kuningan)
  • Musik Bia (berasal dari cangkang binatang laut)
  • Musik Kolintang (bahannya terbuat dari kayu yang dipotong berbilah kemudian diletakkan menutupi sebuah kotak persegi panjang dan kini mulai digalakkan kembali)

Pada tanggal 22 April 2006 bertempat di amfiteater milik Yayasan Masarang di Kelurahan Woloan I, oleh Pakasaan Tombulu (yakni suatu organisasi adat khusus berbahasa Tombulu yang meliputi Kecamatan Pineleng, Kecamatan Tombariri (Minahasa) dan Kota Tomohon) berhasil memindahkan satu buah waruga, yaitu makam leluhur suku Minahasa, yang diiringi berbagai tarian asli Minahasa. Tujuan dari pemindahan waruga ini adalah untuk mengumpulkan semua waruga yang masih tersebar di berbagai tempat di Tomohon ke sebuah kompleks pekuburan waruga yang berlokasi di sekitar amfiteater untuk tetap dipelihara dan dilestarikan.

Kolintang

Kolintang adalah alat musik khas daerah Sulawesi Utara.

Kolintang berasal dari Minahasa. Ia dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran, wenang, kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai konstruksi fiber paralel.

Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: " Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang.

Beberapa group terkenal seperti Kadoodan, Tamporok, Mawenang yang sudah eksis lebih dari 35 tahun.


Prosesi Upacara Perkawinan di Pelaminan


Pernikahan di Tondano
Penelitian prosesi upacara perkawinan adat dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Minahasa Jakarta pimpinan Ny. M. Tengker-Rombot di tahun 1986 di Minahasa. Wilayah yang diteliti adalah Tonsea, Tombulu, Tondano dan Tontemboan oleh Alfred Sundah, Jessy Wenas, Bert Supit, dan Dof Runturambi. Ternyata keempat wilayah sub-etnis tersebut mengenal upacara Pinang, upacara Tawa’ang dan minum dari mangkuk bambu (kower). Sedangkan upacara membelah kayu bakar hanya dikenal oleh sub-etnis Tombulu dan Tontemboan. Tondano mengenal upacara membelah setengah tiang jengkal kayu Lawang dan Tonsea-Maumbi mengenal upacara membelah Kelapa.

Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, maka upacara adat dimulai dengan memanjatkan doa oleh Walian disebut Sumempung (Tombulu) atau Sumambo (Tontemboan). Kemudian dilakukan upacara "Pinang Tatenge’en". Kemudian dilakukan upacara Tawa’ang dimana kedua mempelai memegang setangkai pohon Tawa’ang megucapkan ikrar dan janji. Acara berikutnya adalah membelah kayu bakar, simbol sandang pangan. Tontemboan membelah tiga potong kayu bakar, Tombulu membelah dua. Selanjutnya kedua pengantin makan sedikit nasi dan ikan, kemudian minum dan tempat minum terbuat dari ruas bambu muda yang masih hijau. Sesudah itu, meja upacara adat yang tersedia didepan pengantin diangkat dari pentas pelaminan. Seluruh rombongan adat mohon diri meniggalkan pentas upacara. Nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat dinamakan Tambahan (Tonsea), Zumant (Tombulu) yakni lagu dalam bahasa daerah.

Bahasa upacara adat perkawinan yang digunakan, berbentuk sastra bahasa sub-etnis Tombulu, Tontemboan yang termasuk bahasa halus yang penuh perumpamaan nasehat. Prosesi perkawinan adat versi Tombulu menggunakan penari Kabasaran sebagai anak buah Walian (pemimpin Upacara adat perkawinan). Hal ini disebabkan karena penari Kabasaran di wilayah sub-etinis lainnya di Minahasa, belum berkembang seperti halnya di wilayah Tombulu. Pemimpin prosesi upacara adat perkawinan bebas melakukan improvisasi bahasa upacara adat. Tapi simbolisasi benda upacara, seperti : Sirih-pinang, Pohon Tawa’ang dan tempat minum dari ruas bambu tetap sama maknanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar